Selasa, 29 Desember 2009

Bahasa dan Politik

Dalam permainan politik, bahasa adalah senjata. Ini menunjukkan bagaimana pentingnya bahasa berkaitan dengan politik. Seperti George Orwell sudah menulis, ‘Bahasa politik dirancang untuk membuat kebohongan kelihatan jujur dan pembunuhan sopan’. Tetapi bahasa dalam politik tidak selalu jadi jahat karena bahasa sebagai alat yang sama digunakan baik oleh politikus maupun aktivis. Alat ini bisa digunakan untuk menbujuk, memberitahu dan mencela. Hal ini berkaitan dengan bagaimana pemerintah menyakinkan masyarakat tentang kebijaksanaannya, dan juga bagaimana masyarakat menanggapi keputusan itu.

Jones (1994) membedakan politik mikro dan makro. Pada tataran mikro, ada konflik kepentingan dan upaya saling mengalahkan. Ditempuhlah persuasi, argumen rasional, strategi irasional, ancaman, rajukan, suap, hingga manipulasi. Pada tataran makro, terjadi pelembagaan politik di tingkat negara. Konflik kepentingan diatasi dan naluri saling mendominasi ditangani. Kampanye pemilu merupakan bagian politik mikro. Bahasa kampanye, menurut Bourdieu, dibuat tak sekadar untuk dipahami, tetapi untuk dinilai dan diapresiasi (signes des richesse), bahkan untuk dipercaya dan dipatuhi (signes d’autorit√©). Maka wajar jika bahasa kampanye bernuansa persuasif dan argumentatif-rasional, tetapi kadang irasional, memohon-mohon, menyerang, dan manipulatif.

Bahasa sangat penting dalam politik, sebagai aspek yang kuat dan terbuka, bahasa bisa digunakan baik oleh orang yang berkuasa maupun oleh orang biasa yang melawannya. Alasan kekuatan adalah bahasa karena bahasa bisa merubah pendapat orang. Bahasa bisa digunakan untuk mendalangi masyarakat, terutama dalam bidang politik sebab pidato atau argumen yang bagus bisa menyakinkan khalayak tentang isu-isu penting.

Walaupun bahasa penting dalam bidang politik, dalam penggunannya tidak selalu berhasil memperoleh kepercayaan dari masyarakat. Hal itu mungkin karena bahasa politik terlalu jauh dari bahasa sehari-hari. Bahasa politik di Indonesia terlalu sering diwarnai jargon, plesetan, singkatan, semboyan, dan kebanyakan dimaksudkan untuk mengangkat citra diri sendiri dan/atau menjatuhkan lawan. Jargon politik mempengaruhi wacana politik, karena orang yang ingin mengambil bagian dalam debat umum, pasti harus tahu bagaimana mengunakan bahasa yang cocok. Alasan bahwa politikus berbicara dalam semboyan adalah karena lebih mudah dibandingkan dengan menggunakan kalimat lengkap. Singkatan-singkatan lebih pendek dan sederhana, semboyan-semboyan lebih efektif dan ekonomis. Sayangnya, banyak semboyan dipakai terlalu sering dan menjadi klise.

Bahasa adalah kekuasan. ‘Politik adalah sesuatu seni, atau kegiatan untuk memperoleh kekuasaan dan merambah kekuasaan’. Politikus seharusnya menguasai bahasanya untuk alasan penting, karena siapapun menguasi bahasa akan mempunyai kekuasaan. Ada hubungan yang sangat kuat antara bahasa dan kekuasaan karena mereka yang mempunyai kekuasan bisa mengawasi media massa dan akibatnya mengawasi bahasa.
Pada akhirnya, tidak dapat kita pungkiri bahwa bahasa mempengaruhi politik dan politik mempengaruhi bahasa. Sebagaimana pendapat Aristoletes manusia merupakan seekor ”binatang politik” (politikon zoon, political animal), dan sebagai “binatang” yang memiliki kemampuan pikiran, akal, dan perasaan, kita telah pintar menerima bahasa politik. Jika maksud iklan politik ingin mengelabui rakyat, apa daya rakyat kini sudah kian pintar memilah dan memilih, atau malah rakyat kini sudah apatis dan apolitis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar